Rabu, 23 Desember 2009

perkembangan ekonomi syariah tahun 2010

Tahun 2010 tampaknya bakal menjadi tahun berkah bagi industri keuangan syariah di dalam negeri. Setelah sempat sedikit melempem di 2009, tahun depan tampaknya industri ini bakal makin bergairah.

Otoritas moneter dalam negeri, Bank Indonesia (BI) misalnya, optimistis laju pertumbuhan syariah di sektor perbankan tahun depan bakal mencapai 30 persen. Itu artinya, total aset perbankan syariah nasional bakal mencapai Rp69 triliun.

Deputi Gubernur BI Bidang Kebijakan Stabilitas dan Pengaturan Muliaman D Hadad mengatakan, ada beragam alasan mengapa perbankan syariah optimistik membukukan pertumbuhan hingga 30 persen. Secara eksternal, kondisi perekonomian global yang babak belu dihajar krisis sektor keuangan sejak 2008 lalu, menjadi dasar paling meyakinkan bagi optimisme perbankan syariah tahun depan.

Kondisi ini tentu memberikan angin segar bahwa kondisi perekonomian dalam negeri juga akan bangkit. Tentu, ini menjadi ekspektasi p-ositif bagi para pelaku industri syariah secara global, termasuk Indonesia. Mengutip outlook laporan khusus Financial Times bertajuk The Future of Islamic Finance, Muliaman memaparkan, bahwa industri keuangan syariah global masih optimistis untuk tumbuh meski salah satu mercusuar ekonomi syariah, Dubai sempat bergejolak awal Desember lalu.

Di tengah krisis Dubai World, Financial Times dalam kesimpulannya masih tetap optimis terhadap perkembangan Islamic finance ini. Dengan keunggulan-keunggulan dasar yang dimilikinya, Islamic Finance atau industri syariah, termasuk Indonesia, bisa struggle menghadapi kondisi krisis," paparnya.

Selain itu, perbaikan kondisi ekonomi tentu membawa angin segar bagi para investor menambah modalnya di bank-bank yang bersiap merealisasikan ekspansi bisnis tahun depan. Ini misalnya dilakukan beberapa bank swasta nasional yang berencana membentuk Bank Umum Syariah (BUS). Santer kabar, beberapa diantaranya seperti Bank Central Asia (BCA) sudah akan memuat BUS, begitu juga PT Bank Jabar Banten yang siap melalukan spin offatas unit syariahnya.

Di dalam negeri,ungkap Muliaman, pemberlakuan perubahan tarif pajak dalam Undang-Undang Nomor 42/2009 tentang PPN dan PPn BM pada transaksi syariah,terutama transaksi berakad murabah, yang selama ini dianggap pajak ganda (double taxation) bakal memberi efek positif bagi peningkatan pertumbuhan perbankan syariah nasional. "Kalau asumsiasumsi ini berjalan,saya kira target pertumbuhan 30% masih bisa terkejar," paparnya Muliaman.

Meski demikian, tutur Muliaman, market shareperbankan syariah di tahun 2010 tidak akan banyak bergeser,masih sekitar dua hingga tiga persen.

Tapi itu tidak menjadi masalah mutlak,asal industri syariah bisa meng-acceleratediri melalui kegiatan promosi dan adanya investor yang menanamkan modal di masing-masing ceruk bisnisnya. Optimisme BI sepertinya tak berlebihan, President Direktur PT Bank Syariah Mega Indonesia Tbk Benny Witjaksono misalnya, optimistis bank syariah yang digawanginya bisa membukukan pertumbuhan hingga 30 persen pada 2010 dibanding tahun ini.

Dengan begitu, angka pertumbuhan diharap meningkatkan aset dari estimasi saat ini Rp4,2 triliun bertambah Rp1,2 triliun menjadi Rp5,2 triliun. "Tahun depan, tetap kita menargetkan pertumbuhan 30%.Tahun ini kan kita juga targetkan 30%, ini minimum.Sehingga kalau targetnya sebesar itu, bisa mencapai Rp5,4 triliun dari saat ini Rp4,2 triliun," optimis Benny. Meski begitu, ungkap Benny, pihaknya masih akan lebih mengandalkan basis pertumbuhan secara organis dalam mencatatkan pertumbuhan.

Caranya, PT Bank Syariah Mega Indonesia mengandalkan model bisnis saat ini, yakni berfokus pada kredit kelompok mikro dan gadai, serta penambahan jumlah cabang sesuai ketentuan BI. Di sektor asuransi syariah,Presiden Direktur PT Asuransi Takaful Indonesia Agus Eddy Sumanto juga mengaku optimistik bisa mencatatkan kinerja lebih kinclong di tahun depan.

"Secara umum,bila perbankan syariah menuju tingkat pertumbuhan lebih baik, secara in line industri syariah di sektor asuransi akan mengikuti," paparnya.

Agus mengakui, kondisi makro tahun depan yang lebih baik dibanding saat ini hanya salahsatu faktor pendukung saja. Menurutnya, kinerja lebih baik di tahun depan akan sangat bergantung pada seberapa serius industri menggarap pasar potensial yang cukup besar di dalam negeri. Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) A Riawan Amin meminta BI dan pemerintah mengkonversi bank konvensional BUMN menjadi BUS. Ini dilakukan sebagai strategi untuk mendorong pertumbuhan pangsa pasar industri keuangan syariah dan menempatkannya sebagai solusi pembiayaan kegiatan-kegiatan ekonomi domestik.

"Kalau ingin mencapai pangsa pasar perbankan syariah yang besar sebagai solusi nasional, sambil ini berjalan dengan prudent,maka jawabannya adalah asset convertion plan. Di mana Gubernur BI, Menteri Negara BUMN, duduk dengan Direktur-direktur utama bank konvensional pemerintah membahas strategi ini. Kalau perlu ada bank konvensional pemerintah dikonversi jadi bank syariah," ujarnya.

Menurut Riawan, bila masih mengandalkan pertumbuhan melalui bank-bank umum syariah atau unit usaha syariah, sulit bagi Indonesia mengejar pertumbuhan perbankan syariah lebih tinggi.

"Tidak bisa dibebankan kepada bank umum syariah yang total ekuitasnya hanya di bawah satu persen dari total ekuitas perbankan nasional," paparnya.

Riawan menilai, paradigma pemerintah dalam mendorong industri keuangan syariah dalam negeri juga masih menempatkannya sebagai model pendanaan alternatif. Akibatnya, sektor-sektor ekonomi domestik masih selalu banyak ditopang oleh bank atau lembaga keuangan konvensional. Riawan menjelaskan, saat ini pemerintah memiliki peluang untuk secepatnya melakukan ke-bijakan konversi bank konvensional menjadi bank syariah.

"Mumpung momentumnya sekarang baru krisis moneter, orang tidak percaya dengan sistem ekonomi konvensional." ( zaenal muttaqin)
(Koran SI/Koran SI/rhs)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar